20 November 2008

Bingung nulis apa...

Sudah lama nggak ngeblog, jadi waktu dibuka posting, bingung mau nulis apa....Sangkin bingungnya terpaksa nulis kebingungan itu disini. Baru nulis sedikit udah bingung lagi menulis kebingungan selanjutnya, ditambah lagi harus menjawab ym dari seorang teman sehingga beberapa kali tertunda untuk menulis kebinggungan..Belum lagi teman yang lain menyapa membahas mengenai bisnis yang baru ditulis dia di milis gkps@yahoogroups.com menjadi menambah lama penulisan ini. Tapi nggak apalah ya, toh apa yang kami bahas di ym itu juga ada manfaatnya kok, sorry kalo postingan ini jadi nggak enak dibaca.

Teman yang satu ini memang sangat energik, gigih dan ulet, walau kerja di salah satu perusahaan asing yang cukup terkenal di Jakarta dengan jabatan penting dan gaji besar tidak membuatnya malu untuk mengeluti bisnis makanan walaupun dengan profit kecil. Dengan tangan kecilnya dia pernah menjual keripik singkong pedas hasil olahannya sendiri tanpa bantuan orang lain, pekerjaan itu dilakoni hari Sabtu saat libur kantor. Jam 05.00 WIB dia sudah berangkat ke pasar untuk membeli singkong, singkong yang dibeli diiris-iris, digoreng dan disambal kemudian dikemas dalam kantong plastik dan kemudian didistribusikan ke warung dan teman-teman sekantornya. Wanita ini memang pekerja keras, itu karena didikan dari kedua orangtuanya dan tuntutan ekonomi keluarga sebagaimana dia tuturkan dalam pembicaraan kami di ym (yahoo messenger). Masih banyak keinginan yang ingin dicapainya, tapi dia juga mengakui kalau dalam hidupnya juga banyak mengalami kegalalan. Untuk mencapai suatu tujuan itu memang banyak hambatan, tantangan dan kendala yang dihadapi, dibutuhkan ketabahan dan keuletan untuk menghadapinya.

Ini..nih kalo lagi bingung, akhirnya jadi nulisan keberhasilan orang....udah dulu yah daripada nambahin kebinggungan, dan buat binggung yang baca...bagus makan siang dulu ah...
tak terasa udah 13.38 WIB...


26 Agustus 2008

INTERVENSI

Apa yang terjadi ketika seseorang berusaha memasuki wilayah kita dan merusak tatanan yang telah kita buat?
Apa yang terjadi ketika kebebasan orang diusik?
Apa yang terjadi ketika orang luar berusaha mengatur kita?
Apa yang terjadi ketika kejujuran diartikan lain?
Apa yang terjadi kekuasaan digunakan untuk menindas?
Apa jadinya kalau penegak keadilan membengkokan kebenaran?
Apa jadinya kalau kekuatan uang mempengaruhi keputusan?
Apa jadinya kalau kita biarkan ketidakadilan merasuki kehidupan kita?
Apa jadinya??

NB :
Tulisan ini terinsparasi berdasarkan pengalaman ketika penegak keadilan berusaha mengintervensi keputusan panitia.

05 Agustus 2008

KERUNTUHAN MONARCHI SIMALUNGUN









Oleh: Erond Litno Damanik, M.Si
1.Pengantar.
Riwayat asal mula kerajaan Simalungun hingga kini belum diketahui pasti, terutama tentang kerajaan pertama yakni Nagur (Nagore, Nakureh). Demikian pula kerajaan Batanghiou serta Tanjung Kasau. Kehidupan kerajaan ini hanya dapat ditelusuri dari tulisan-tulisan petualang dunia terutama Marcopolo dan petualang dari Tiongkok ataupun dari hikayat-hikayat (poestaha partikkian) yang meriwayatkan kerajaan tersebut. Di zaman purba wilayah Simalungun mempunyai 2 buah kerajaan besar yaitu pertama kerajaan Nagur yang ada di dalam catatan Tiongkok abad ke-15 (“Nakuerh”) dan oleh Marcopolo tatkala ia singgah di Pasai tahun 1292 M. kerajaan besar itu menguasai wilayah sampai-sampai ke Hulu Padang-Bedagai dan Hulu Asahan. Kerajaan tua yang lain ialah Batangio yang terletak di Tanah Jawauri (Tanoh Jawa). Pada masa itu, kerajaan Simalungun dikenal dengan nama harajaon na dua (kerajaan yang Dua)Selanjutnya, diketahui bahwa pasca keruntuhan kerajaan Nagur, maka terbentuklah harajaon na opat (kerajaan Berempat) yaitu: Siantar, Tanoh Jawa, Panai dan Dolog Silau. Ke-empat kerajaan ini menjadi populer pada saat masuknya pengusaha kolonial Belanda, dimana tiga kerajaan yakni Tanoh Jawa, Siantar dan Panei bekerjasama dengan pengusaha kolonial dalam memperoleh perijinan tanah. Setelah masuknya Belanda terutama sejak penandatanganan perjanjian pendek (korte verklaring) maka tiga (3) daerah takluk (partuanan) Dolog Silau di naikkan statusnya menjadi kerajaan yang sah dan berdiri sendiri, yakni Silimakuta, Purba dan Raya. Pada saat itu, kerajaan di Simalungun dikenal dengan nama harajaon na pitu (kerajaan yang Tujuh). Simalungun Sumatera Timur.Akhir dari kerajaan Simalungun ini adalah terjadinya amarah massa pada tahun 1946 yang dikenal dengan revolusi Sosial. Sejak saat itu, peradapan rumah bolon (kerajaan) Simalungun punah selama-lamanya. Dengan uraian singkat diatas, penulis berkeinginan untuk menulis kembali sejarah berdiri dan hanucrnya kerajaan.Atas dasar inilah, penulis berkeinginan untuk mendeskripsikan kembali sejarah bangun dan hancurnya kerajaan Simalungun Sumatera Timur yang banyak diriwayatkan dalam sejarah Simalungun.
2. Tiga fase Kerajaan Simalungun.
Secara historis, terdapat tiga fase kerajaan yang pernah berkuasa dan memerintah di Simalungun. Berturut-turut fase itu adalah fase kerajaan yang dua (harajaon na dua) yakni kerajaan Nagur (marga Damanik) dan Batanghio (Marga Saragih). Berikutnya adalah kerajaan berempat (harajaon na opat) yakni Kerajaan Siantar (marga Damanik), Panai (marga Purba Dasuha), Silau (marga Purba Tambak) dan Tanoh Jawa (marga Sinaga). Terakhir adalah fase kerajaan yang tujuh (harajaon na pitu) yakni: kerajaan Siantar (Marga Damanik), Panai (marga Purba Dasuha), Silau (marga Purba Tambak), Tanoh Jawa (marga Sinaga), Raya (marga Saragih Garingging), Purba (marga Purba Pakpak) dan Silimakuta (marga Purba Girsang).Seperti yang dikemukakan diatas bahwa asal muasal kerajaan Simalungun tidak diketahui secara pasti terutama dua kerajaan terdahulu yakni Nagur dan Batanghiou. Sinar (1981) mengemukakan bahwa kerajaan Nagur telah ada dalam catatan Tiongkok abad ke-15 (“Nakuerh”) dan oleh Marcopolo tatkala ia singgah di Pasai tahun 1292 M. Kerajaan besar itu menguasai wilayah sampai ke Hulu Padang-Bedagai dan Hulu Asahan. Kerajaan tua yang lain ialah Batangio yang terletak di Tanah Jawauri (Tanoh Jawa). Kendati konsepsi raja dan kerajaan di Simalungun masih kabur, akan tetapi, Kroesen (1904:50 mengemukakan bahwa konsep raja dan kerajaan itu berasal dari orang Simalungun itu sendiri sebagai perwujudan otonomi kekuasaan yang lebih tinggi. Bangun dalam Saragih (2000:310) mengemukakan bahwa kata ‘raja’ berasal dari India yaitu ‘raj’ yang menggambarkan pengkultusan individu penguasa. Mungkin saja konsep itu terbawa ke Simalungun akibat penetrasi kerajaan Hindu-Jawa seperti Mataram lama pada masa ekspansi ke Sumatera Timur (Tideman,1922:58). Lebih lanjut dikemukakan bahwa pengaruh Hindu di Simalungun dapat diamati langsung dari bentuk peninggalan yang mencerminkan pengaruh Hindu-Jawa. Nama kerajaan Tanoh Djawa setidaknya telah mendukung argumentasi itu Menurut sumber Cina yakni Ying-yai Sheng-ian, pada tahun 1416, kerajaan Nagur (tertulis nakkur) berpusat di Piddie dekat pantai barat Aceh Dikisahkan bahwa raja nagur berperang dengan raja samudra (Pasai) yang menyebabkan gugurnya raja Samodra akibat panah beracun pasukan Nagur. Pemaisuri kerajaan Samodra menuntut balas dan setelah diadakannya sayembara, maka raja Nagur berhasil ditewaskan. Kendati demikian, sejarawan Simalungun sepakat bahwa lokasi ataupun pematang kerajaan Nagur adalah di Pematang Kerasaan sekarang yang berada dekat kota Perdagangan terbukti dengan adanya konstruksi tua bekas kerajaan Nagur dari ekskavasi yang dilakukan oleh para ahli (Tideman, 1922:51). Mengenai polemik tentang lokasi defenitif kerajaan Nagur pernah berada dekat Pidie (Aceh) dapat dijelaskan sebagai akibat luasnya kerajaan Nagur. Oleh karenanya, raja Nagur menempatkan artileri panah beracunnya pada setiap perbatasan yang rentan dengan invasi asing. Kerajaan Batanghio, tidak ditemukan tulisan-tulisan resmi tentang riwatnya maupun pustaha yang mengisahkan asal-usulnya. Hanya saja Tideman (1922) menulis dalam nota laporan penjelasan mengenai Simalungun. Oleh para cerdik pandai Simalungun, Batanghio pada awalnya dipercaya sebagai partuanon Nagur, akan tetapi karena kemampuannya dan karena luasnya kerajaan Nagur, maka status partuanon itu diangkat menjadi kerajaan. Pada tahun 1293-1295, kerajaan Nagur dan Batanghio diinvasi kerajaan Singasari dengan rajanya yang terkenal, Kertanegara. Ekspedisi itu dikenal dengan ekspedisi Pamalayu yang dipimpin oleh Panglima Indrawarman yang berasal dari Damasraya Djambi (Wibawa, 2001:14-15) yang kemudian mendirikan Kerajaan (Dolog) Silou pada akhir abad XIV. Untuk mempertahankan, daerah vasalnya, maka raja nagur menyerahkan kekuasaannya kepada para panglima dan mempererat hubungan dengan pematang (central kekuasaan) semakin erat dan kokoh. Dengan demikian di Simalungun sampai pada tahun 1883 terdapat kerajaan yang sifatnya konfederasi (Dasuha dan Sinaga, 2003:31) yakni kerajaan Siantar (Damanik), Panei (Purba Dasuha), Dolog Silau (Purba Tambak) dan Tanoh Jawa (Sinaga). Wilayah Dolog Silau yang begitu luas dan intensya pertikaian antar huta, maka dibentuklah tiga partuanon, yakni Partuanon Raya (Saragih Garinging), Partuanon Purba (Purba Pakpak) dan Partuanon Silimahuta (Purba Girsang). Strategi ini ditempuh untuk mempererat kekuasaan Dolog Silau dan tiga kerajaan besar lainnya. Setelah penandatanganan perjanjian pendek (korte verklaring) pada tahun 1907 yang intinya tunduknya seluruhnya kerajaan kepada kolonial, maka untuk mempermudah urusan administrasi serta mempermuda politik devide et impera, maka status partuanon dari tiga partuanon Dolog Silou itu dinaikkan statusnya menjadi kerajaan. Yakni kerajaan Silimahuta (Purba Girsang) yang Pematang nya di Pematang Nagaribu, kerajaan Purba (Purba Pak-pak) dengan pematang di Pematang Raya. Dengan demikian setelah penandatanganan Korte Verklaring, Simalungun mengenal tujuh kerajaan yang bersifat konfederasi, yakni dikenal dengan sebutan Kerajaan nan tujuh (harajaon Na pitu-siebenvorsten) (Tambak,1982:20-128; Tideman,1922:3-11). Pasca penandatanganan perjanjian pendek (korte verklaring) itu, maka oleh pemerintah kolonila Belanda, penguasa pribumi (native states) ditugaskan untuk mengurus daerahnya sendirinya sebagai penguasa swapraja. Sebagai penguasa daerah yang otonom mereka memiliki status sebagai kepala pemerintahan daerah. Penataan itu dilakukan sebagai upaya mempercepat aneksasi dan passifikasi daerah dalam upaya menjaga kondusifitas onderneming kolonial.Dalam poestaha hikayat Parpadanan na Bolak dapat diketemukan bahwa asal usul monarhi (kerajaan) di Simalungun telah bersentuhan dengan kerajaan yang ada di Pulau Jawa pada saat itu. Keadaan ini juga dipertegas dengan berbagai asumsi penulis Eropa, bahwa pengaruh Jawa telah ada dan berkembang di kawasan ini terbukti dengan penamaan salah satu area (Tanah Djawa) di Simalungun. Lagi pula, terdapat berbagai kesamaan dalam hal perangkat kebudayaan seperti pemakaian destar (gotong dan Bulang) dalam khasanah adat. Di samping itu, juga telah bersentuhan dengan pengaruh Sinkretis (Hindu-Jawa) seperti permainan catur, meluku sawah dan lain-lain. Hal yang paling mengesankan adalah bahwa hewan korban dalam perangkat adat istiadatnya adalah ayam (dayok nabinatur).Ini berarti bahwa, keadaan dimana kerajaan di Simalungun telah mengambil corak modern layaknya sebuah negara yang memiliki perangkat-perangkat tertentu. Keadaan seperti ini tidak dimiliki suku lain seperti Tapanuli (Utara), Karo, Pak-pak, Mandailing, Angkola sungguhpun mereka itu mengenal konsep raja. Dengan demikian, konsep raja dan kerajaan yang telah lama berdiri di Simalungun merupakan peninggalan dalam kebudayaannya sebagai dampak persentuhannya dengan budaya lain (Hindu-Jawa). Dari uraian diatas dapat disimpulkan bahwa masing-masing kerajaan di Simalungun dengan marga pemerintahnya adalah sebagai berikut:
Fase Nama Kerajaan Marga Pemerintah
I Kerajaan yang dua




Nagur Damanik




Batanghoiu Saragih
II Kerajaan yang Empat




Siantar Damanik




Tanoh Jawa Sinaga
Dolog Silau Tambak
Panai Dasuha
III
Kerajaan yang Tujuh
Siantar Damanik
Tanoh Jawa Sinaga
Dolog Silau Tambak
Panai Dasuha
Raya Garingging
Purba Pakpak
Silimahuta Girsang
3. Runtuhnya Kerajaan Simalungun Sumatera Timur.
Kekhasan Sumatera Timur menjelang Indonesia merdeka tahun 1945 adalah adanya perbedaan-perbedaan kelas antara bangsawan dan rakyat jelata. Dalam masyarakat Simalungun, perbedaan kelas tersebut adalah seperti golongan parbapaan (bangsawan), partongah (pedagang), paruma (petani) dan jabolon (budak). Keadaan yang sama ada pada rakyat Melayu Sumatera Timur terutama antara Sulthan dan rakyat.Sebagai negera yang bari terbentuk, nasionalisme rakyat Indonesia masih mengental dan dapat dipahami apabila masih menaruh dendam terhadap feodalisme yang sebelumnya merupakan kaki tangan kolonial. Oleh karena itu, situasi rakyat yang masih baru merdeka, kemudian disulut dengan provokasi orang lain (organisasi) tak pelak lagi apabila kecemburuan sosial dapat berujuk revolusi massa yang menelan ongkos sosial yang tinggi. Termasuk punahnya sebuah peradapan di Sumatera Timur (Simalungun dan Melayu), dimana raja dan kerabatnya beserta istananya musnah selama-lamanya. Keadaan seperti ini berlanjut hingga memasuki tahun 1946 sehingga mendorong kebencian masyarakat terhadap golongan elit. Sejalan dengan itu, berkembangnya pemahaman politik pada waktu itu, turut pula menyulut keprihatinan terhadap perbedaan kelas yang didorong oleh keinginan untuk menghapuskan sistem feodalisme di Sumatera Timur.Demikianlah hingga akhirnya terjadi peristiwa berdarah yang meluluhlantakkan feodalisme di Sumatera Timur terutama pada rakyat Simalungun dan Melayu. Pada peristiwa tersebut empat dari tujuh kerajaan Simalungun yaitu Tanoh Jawa, Panai, Raya dan Silimakuta pada periode ketiga ini musnah dibakar. Sementara Silau, Purba dan Siantar luput dari serangan kebringasan massa. Raja dan kerabatnya banyak dibunuh. Peristiwa ini menelan banyak korban nyawa, harta dan benda. Kejadian yang sama juga menimpa kesultanan Melayu dimana empat kesultanan besarnya Langkat, Deli, Serdang serta Asahan dibakar dan lebih dari 90 sultan dan kerabatnya tewas dibunuh (Reid, 1980)Riwayat swapraja Simalungun telah berlalu setelah terjadinya revolusi sosial pada tahun 1946. Revolusi itu tidak saja menamatkan kerajaan tapi juga seluruh kerabat perangkat kerajaan dan keluraga raja yang mendapatkan hak istimewa dari pemerintah kolonial, sehingga telah meningkatkan kecemburuan sosial dari rakyat terhadap raja. Revolusi terjadi setelah rakyat diorganisir dan diagitasi oleh organisasi dan partai revolusioner di Simalungun. Sejak saat itu sistem kerajaan tradisional Simalungun menemui riwayatnya. Dalam arti lain, lenyapnya atau runtuhnya zaman keemasan monarhi itu telah pula menandai berakhirnya peradapan besar rumah bolon.
4. Penutup.
Bentuk peradapan Simalungun yang tidak dimiliki oleh sub etnik Batak lainnya terletak pada sistem pemerintahannya. Orang Simalungun mengenal sistem pemerintahan yang sangat jelas yaitu monarchis (kerajaan), suatu bnetuk pemerintahan yang dikepalai oleh raja beserta aparaturnya. Bentuk pemerintahan tersebut adalah bentuk persinggungan budaya Hindia yang masuk ke tanah Batak memasuki abad ke-4 yang membentuk kerajaan tertua di Sumatera yakni Nagur. Terdapat tiga fase kerajaan yang pernah berkuasa dan memerintah di Simalungun. Berturut-turut fase itu adalah fase kerajaan yang dua (harajaon na dua) yakni kerajaan Nagur (marga Damanik) dan Batanghio (Marga Saragih). Berikutnya adalah kerajaan berempat (harajaon na opat) yakni Kerajaan Siantar (marga Damanik), Panai (marga Purba Dasuha), Silau (marga Purba Tambak) dan Tanoh Jawa (marga Sinaga). Terakhir adalah fase kerajaan yang tujuh (harajaon na pitu) yakni: kerajaan Siantar (Marga Damanik), Panai (marga Purba Dasuha), Silau (marga Purba Tambak), Tanoh Jawa (marga Sinaga), Raya (marga Saragih Garingging), Purba (marga Purba Pakpak) dan Silimakuta (marga Purba Girsang).Hancurnya kerajaan Simalungun Sumatera Timur adalah sebagai dampak dari gejolak amarah massa yang terjadi pada 6 Maret 1946 yang lebih dikenal dengan revolusi sosial terutama di wilayah Simalungun dan Melayu Sumatera Timur. Sejak saat itu, sistem pemerintahan swapraja Simalungun punah selama-lamanya.
Daftar Pustaka.
Anderson. John., 1823 Mission to the Eastcoast of Sumatra: Edinbrugh
Dasuha. Juandarahaya dan Marthin Lukito Sinaga., 2003. Tole!den Tomorlanden das Evanggelium. Sejarah Seratus Tahun Pekabaran Injil di Simalungun 2 September 1903-2003: Pematang Siantar: Kolportase GKPS
Kroesen, JA., 1893 Eene reis door de landschappen Tandjoeng Kassau, Siantar en Tanah Djawa. TBG XXXIX, p. 229-304.
Reid. Anthony., 1981., The Blood of the People, Revolution and the of Traditional rule in Nothern Sumatera. Kuala Lumpur: Oxford University Press.
Saragih .Hisarma., 1999. Zending di Tanah Batak: Study Tentang Konversi Dikalangan Masyarakat Simalungun 1903-1942. (Thesis Magister Humaniora). Yogyakarta: Universitas Gajah Mada
Sinar, T. Luckman, 1981. Tuhan Sang Nahualu, Raja Siantar. Seminar Sejarah Nasional III, tanggal 12-11-1981 di Jakarta.
Tambak.,T.B.A., 1982. Sejarah Simalungun. Pematang Siantar: Yayasan Museum Simalungun.
Tiderman.J., 1922. Simeloengen: Het Land der Timoer Bataks in Zijn Ontwikling tot Een Deel Van het Kulturgebied van de Ooskust van Sumatera. Leiden: Stamdruskkerij Louis H. Beeherer
This entry was posted on February 20, 2008 at 6:51 pm and is filed under ARTICLE. You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0 feed. You can leave a response, or trackback from your own site.

Sepatu Lampu

Sekitar seminggu lebih Thuva minta dibeliin sepatu yang ada lampunya karena kesibukan kerja jadi acara beli sepatu tidak jadi-jadi. Hari Rabu Thuva, Tristan, Tante dan Mama datang ke Tanjung Balai setelah empat taon lebih tugas di Tanjung Balai baru sekali ini mereka datang melihat papanya.

Malamnya sewaktu tidur Thuva mimpi, di mimpinya dia minta dibeliin sepatu lampu. Aku dan mamanya tersenyum, dan kami berjanji akan beliin sepatunya di Medan.

Besok pagi pas bangun Thuva minta dibeliin sepatu lagi, padahal hari aku sudah siap-siap mau ngantor. Terpaksa aku menyakinkan dia, kalo nanti setelah pulang ke Medan kita akan beli sepatunya di Plaza Medan Fair.

Sore hari pulang ngantor, Thuva masih menagih biar beli sepatunya di Tanjung Balai saja, mengingat keterbatasan pertokoan di Tanjung Balai terpaksa, aku dan mamanya menyakinkan dia lagi untuk membelinya sepulang dari Tanjung Balai.

Malamnya aku tanya Thuva perihal sepatu lampunya : Thuv, kok kamu pengen beli sepatu lampu? Si Thuva bilang : "Iyalah Pak, khan cantik ada lampunya, kek punya Ivan itu lho Pak sepatu Mickey Mouse ada lampunya. Ternyata si Thuva terinspirasi dari sepatu anak tetangga sebelah rumah kami, yang kebetulan teman akrabnya. Mamanya juga menambahkan kalo teman sekelasnya si Pier di TK A Star Kid juga pakai sepatu yang ada lampunya. Iyalah Thuv, nanti kita beli kalo sudah sampai Medan ya. Si Thuva bilang : Beli ya Pak..

Tadinya aku mengira karena Medan sering mati lampu, jadi si Thuva pengen punya sepatu lampu. Hari Minggunya kami membeli sepatu lampu, dia cukup senang dengan pilihannya. Walau cukup melelahkan juga menemaninya untuk memilih sepatu kesukaannya tetapi terobati juga melihat wajah senangnya ketika dia memakai sepatu barunya sejak dibeli.

31 Juli 2008

Finger Print

Kemarin Kantor kami dipasangi alat pengabsen otomatis / fingerprint, dalam waktu dekat akan dioperasikan. Banyak pegawai kurang senang dengan absen model ini, maklumlah masih banyak pegawai yang kadang datang telat dan pulang duluan. Absen ini berpengaruh dengan pemotongan uang tunjangan, apabila pegawai telat tunjangan dipotong 1,25% dan apabila tidak datang dipotong 5%. Jadi tidak hanya hukuman disiplin kepegawaian saja tetapi pegawai juga kena denda.

Saya juga termasuk bagian dari yang tidak senang, karena selama ini apabila ada urusan keluarga di Medan saya bisa pulang senin pagi so ngantornya siang hari. Berlakunya fingerprint akan berdampak positif dengan kehadiran pegawai, walau menurut saya kurang efektif mengingat beban kerja yang kita kerjakan tidak cukup padat.

Tetapi hal ini diakibatkan kurangnya disiplin dari pegawai di negeri ini, tetapi tetap kembali kepada beban kerja yang dibebankan kepada pegawai itu sendiri, hal ini yang terkadang pegawai kurang betah berlama-lam di kantor.

Jadi pemerintah seharusnya juga memikirkan tentang penambahan pegawai negeri mengingat beban kerja yang diberikan tidak sepadan dengan jumlah pegawai.

25 Juli 2008

Mobil

Tadi malam aku ngobrol sama Thuva anak kami paling besar melalui handphone, dia nanya masalah rumah yang akan dibeli di daerah Namorambe. Dia bilang, rumah yang dibeli ada mobilnya ya..? Iya enggak, cuma rumah saja. Rupanya dia sebelumnya sudah lihat brosur, di brosur di depan rumah ada mobil, rumah yang ada mobilnya rumah type 36 sementara rumah yang mau dibeli type 31, di brosur tidak ada mobilnya. Jadi dia berkeras sama mamanya untuk beli rumah yang ada mobilnya. Karena terus dihasut oleh Thuva, akhirnya mamanya bilang ia. Pas waktu saya telpon dia langsung bilang kalo dia mau rumah yang ada mobilnya. Ia mencontohkan tetangga kami yang punya mobil dan juga sepeda motor, aku bilang ke dia kalo kita nabung dulu biar nanti kalo udah banyak tabungan baru beli mobil. Dia bilang nggak pap, kita beli rumah yang ada mobilnya. Terakhir aku bilang bapak besok pulang, nantilah ki ngomongin lagi ya nak, Thuva tidur dulu, setelah berdoa melalui telepon kami menutup telepon setelah say I Love U

18 Juli 2008

Senam Pagi

Jum'at pagi seperti biasa di kantor kami selalu diadakan senam pagi, seluruh pegawai senang mengikutinya termasuk saya. Senam dibawakan oleh instruktur senam dari medan, walau ketiga instrukturnya gemuk tetapi gerakannya termasuk lincah. Dan baru ini instruktur di tempat kami instruktur senamnya gemuk-gemuk, tetapi semua nampak senang menikmati senam yang diperagakan ketiga instruktur tersebut.

Kami bertiga serumah pagi-pagi sudah siap-siap untuk berangkat ke kantor, Pak Lansius yang selalu duluan bangun. Pagi ini Pak Lansius bangun duluan setelah membangunkan kami, Pak Lansius langsung berangkat naik becak. Pak Sudung juga sudah bangun, setelah minum air putih dua gelas dan menyulut sebatang rokok Dji Sam Soe, kami baru mandi. Setelah berpakaian seragam senam yang baru dibagi kami berangkat ke kantor mengendarai sepeda motor milik Benny, sepeda motor melaju kencang karena waktu senam sudah mepet dan kami sampai sebelum senam dimulai.

Walaupun hujan gerimis, tetapi semua pegawai melakukan senam dengan serius mengikuti gerakan instruktur. Senam "Anak Medan" juga diajarkan kami menari layaknya orang Batak sedang manortor. Hujan sudah mulai reda, waktu satu jam lebih tidak berasa, apalagi senam ditutup dengan goyang dangdut. Semua bergoyang dengan senang walaupun tidak semua mampu mengikuti gerakan dari instruktur yang meliuk bak pejoget dangdut professional. Tapi semua peserta merasa professional dan merasa telah melakukannya dengan sempurna seperti instruktur senam.

Setelah melalui peregangan senam berakhir, semua pegawai mengambil minum dan sarapan yang telah disediakan, sarapan roti jala jadi sarapan kami pagi itu. Sambil istirahat dan setelah selesai sarapan pegawai mengobrol, merokok dan sebahagian mengerjakan pekerjaan rutin yang telah menunggu untuk diselesaikan.

Kami sebagai panitia pengadaan juga bersiap-siap untuk menerima pendaftar yang telah menunggu kami, pendaftaran tepat dibuka jam 9.00 WIB. Kegiatan telah kita lakukan walaupun belum sempat mandi, hanya menganti baju yang telah dibasahi keringat kita langsung mengerjakan pekerjaan kita masing-masing.

Senam Jum'at pagi memang menyenangkan....

17 Juli 2008

Scabies

Sabtu 12/07/08, jari tangan kiriku gatal, kemudian minggunya makin menjalar ke seluruh tangan dan kaki. Seninnya badanku juga ikut gatal-gatal. Karena kebiasan mengaruk sesuatu yang gatal mengasyikan membuat seluruh badanku ikut gatal.

Aku beserta istriku pergi ke RS Advent Medan untuk berobat, sekaligus mencari tahu perihal gatal-gatal tersebut. Setelah mendaftar kami masuk ruang tunggu, menunggu panggilan dari suster untuk diperiksa dokter. Setelah menunggu sekitar 10 menit, akhirnya kami disuruh masuk, dokter umum yang memeriksa menanyakan perihal penyebab gatal-gatal tersebut. Setelah memeriksa dengan steteskopnya, kami disuruh untuk mengikuti salahsatu suster ke laboratorium untuk pemeriksaan darah. Setelah menunggu pemeriksaan darah, dokter memutuskan untuk memanggil dokter kulit yang kebetulan sedang berada di luar. Dokter menyatakan kalo pemeriksaan darah bagus, tensi bagus, suhu badan bagus. Jadi dia tidak dapat memberikan kesimpulan atas penyakit tersebut, karena dugaan sebelumnya kalau aku demam berdarah.

Sembari menunggu dokter kulit yang tak tahu berada entah dimana, kami memutuskan untuk makan di kantin rumah sakit tersebut. Padahal suster bilang kalo dokter kulitnya akan segera datang jadi tunggu aja di ruang tunggu. Berhubung sudah pengalaman dengan karakter Indonesia khususnya daerah Medan, kadang kata sebentar memakan waktu cukup lama sehingga kami putuskan untuk makan dulu ke kantin.

Kantin sederhana dengan jajanan sederhana bahkan bisa dibilang minim dan menu yang juga minim, jadi kami mutuskan untuk makan kerupuk udang dan memesan mie goreng. Setelah melahap kerupuk dan menyantap mie goreng kami kembali ke ruang tunggu, kami berpapasan dengan suster dan dokter yang baru saja datang. Suster mengajak kami untuk langsung menuju praktek dokter kulit. Dokter yang baru datang langsung menanyakan perihal keadaan saya dan kenapa mengenakan jaket, setelah menjawab seadanya aku dipersilakan untuk menaiki tempat tidur pemeriksaan. Si dokter melihat bintik-bintik merah yang ada pada tubuhku, kemudian dia menanyakanku perihal apakah aku baru dari luar kota. Aku pikir dokter ini dukun apa paranormal kok tau kalo aku baru dari luar kota, sambil berseloroh aku bilang emang dari bintik-bintik merahnya ketahuan ya dok kalo aku baru keluar kota. Si dokter diam dan melanjutkan pertanyaan apa aku menginap di hotel dan menanyakan istri apa ia juga gatal-gatal.
Setelah menjawab tetek bengek yang tidak perlu, si dokter berkesimpulan kalo aku tertular kutu bernama "scabies". Hal ini bisa ditularkan dari teman atau karena kasur yang sudah lama tidak dijemur. Kemudian dia juga menanya tentang teman yang tinggal serumah yang dio tanjung balai, apakah ada yang menderita seperti penyakit bintik merah dimaksud, kemudian saya teringat dengan Pak Lansius di punggungnya ada sekumpulan bintik merah dan langsung aku sampaikan ke dokter. Si dokter langsung bilang kalo aku tertular dari bapak tersebut, ketika kutanya cara penularannya si dokter bilang, bisa dari tempat tidur yang dipakai oleh si penderita dari kursi atau wadah lain yang membuat ada kontak perantara dengan si penular.
Pernyataan si dokter menurut saya paradoks karena saya beserta anak saya tidur selama dua malam di kasur yang sama tapi istri dan anak-anak saya tidak tertular, si dokter bilang itu bisa kalo kasurnya dijemur. padahal kapan pula kami jemur kasur, si dokter ngawur menurutku, aku hanya diam saja ketika dia buat resep menurut dia hanya asal jawab saja akibat ketidaktahuan dan kebodohannya.

Setelah membayar semua biaya periksa di kasir kami pulang ke rumah, dan ketawa mengenai hasil pemeriksaan dari kedua dokter tersebut.

09 Juli 2008

Merokok lagi

Hari ini aku pakai celana kantor sempit, sampai nggak bisa masukan baju...
ini gara-gara berhenti merokok, mama bilang perut blehh, pantat blehhh..
yang artinya sendiri aku tak tahu, mungkin aja perut ama pantat sama-sama nonjol..

Selera makan bagus aja, sementara olahraga kurang.......pusing ah...merokok sama nggak merokok sama-sama repot...capek deh..

Tapi aku niat dech mau olahraga, stop merokok itu pasti dech...

Besok tak ada rokok lagi......

Semoga ya........

08 Juli 2008

01 06 2008

Banyak hal terasa hilang ketika kita berusaha menghentikan sesuatu yang menjadi keinginan kita, sesuatu yang menjadi kebiasaan kita, sesuatu yang membuat orang mengenal kita akan apa yang sering kita lakukan atau apa yang kita kenakan. Yah, sesuatu yang sudah menjadi ciri khas kita.

01 06 2008 merupakan tanggal akan keinginan, kebiasaan dan ciri khas tersebut dihilangkan, padahal hari sebelumnya dia selalu menjadi teman di kala bekerja, teman di kala berpikir akan sesuatu yang rumit dan ruwet untuk dipikirkan, teman di kala kesepian di tengah malam karena susah tidur, teman membunuh waktu ketika sedang menunggu, teman ketika bersama-sama dengan teman. Tapi pada tanggal ini, semua akan hal tersebut dihilangkan, tidak ada lagi orang yang komplain ketika kita berada di ruangan, di angkutan umum, di perkantoran karena semua itu sudah kita tinggalkan.

Tanggal dimaksud selain sebagai hari lahirnya Pancasila bagi bangsa dan negara Indonesia, juga buat saya pribadi tanggal tersebut sebagai tonggak sejarah, karena setelah 10 tahun lebih ditemani oleh teman yang sangat setia, yang selalu kubawa kemana saja, dan selalu kucarii ketika dirinya tiada. Akhirnya pada tanggal 01 06 2008 ini saya tinggalkan.

Ketika pertama kali meninggalkannya, ingin rasanya untuk kembali lagi dengannya, ingin berusaha untuk mencarinya. Walau sebenarnya tidak susah untuk mencarinya, tapi karena tekad yang bulat untuk meninggalnya, akhirnya aku terus berupaya untuk tidak tergoda kembali untuk memulainya.

Sebulan lebih sudah berlalu, keinginan untuk kembali selalu tinggi, aku ingin selalu bersamanya apalagi ketika selesai makan, ketika kecapaian, ketika selesai bercinta ingin kuhidupkan kembali, menariknya dalam-dalam dan menghembuskannya ketika rongga dada dan paru-paru telah penuh. Seperti 3 hari yang lewat, secara berturut-turut (setiap hari), aku selalu menempelkannya di bibirku...tapi hari ini tak sebatangpun singgah di bibirku....

Kemarin istriku bilang agar aku komit, walau aku berdalih kalo selera makanku naik dan berat badanku bertambah ketika aku putuskan diriku untuk berhenti merokok, tapi dia tetap bilang agar aku komit untuk merokok lagi. Ya jelaslah aku komit mam, orang dia aja tak tahu kalo aku berhenti merokok, aku berhenti karena keinginanku untuk berhenti. Karena aku menyayangi anak-anakku dan istriku, karena aku tidak ingin anak-anakku yang masih bayi menjadi perokok pasif akibat kebiasaan merokok yang kadang tanpa pandang tempat dan waktu.

01 06 2008 adalah salah satu tanggal yang bersejarah bagiku. Tanggal dimana aku memulai hidup tanpa merokok.

16 Juni 2008

Pentas Seni

Thuva besok, Selasa 17 Juni 2008 akan mengadakan pentas seni sehubungan dengan berakhirnya masa sekolah Playgroupnya di Star Kid Suara Nafiri Jl. Mansyur, Medan. Hari Rabu anak kami Thuva akan menerima rapor atas hasil sekolahnya selama 1 taon. Tadi siang sewaktu kutelpon mamanya yang mengantar Thuva ikut GR untuk acara Pentas Seni besok. Mamanya sudah menyiapkan baju tentera yang dibeli di Tomang Elok untuk persiapan Pentas Seni seminggu yang lalu, semalam waktu Thuva main sama Jossy dan Maria (keduanya anak abangku) tali topi tenteranya putus akibat tarik-tarikan sama abangnya Jossy. Thuva udah hapal lagu yang akan dinyanyikannya besok, selama ini kami juga sering bernyanyi bersama, kadang Thuva menyanyi dengan gaya ngeRock.

Lagunya enak di dengar, cuma anak kami Thuva kadang suaranya kencang kandang pelan, syairnya kalo tidak salah seperti ini :

Markas setan dihancurkan, panji Yesus ditinggikan
Akulah Pahlawan

Setiap hariku bernyanyi, bawa gitar dan kecapi
britakan InjilNya

Anak-anak Star Kid (Ya Saya)
SaksiNya Tuhan, membawa pedang di tangan
bikin kacau Setan

Anak-anak Star Kid (Oh Yes)
SaksiNya Tuhan, membawa pedang di tangan
bikin kacau Setan


Pas direffnya, yaitu Anak-anak Star Kid suaranya kencang dan suara rocknya lansung keluar, entah darimana dia meniru cara bernyanyi seperti itu. Yang lucu kata mamanya Thuva selalu mengulang setiap kata dari lagu dua kali, itu karena Ibu gurunya (missnya) selalu memberi aba-aba dengan menyanyikan syair lagu lebih dulu agar anak-anak mengikuti lagu yang dinyanyikan si ibu guru. Akhirnya Thuva sering menyanyinya dua kali sekali pelan seperti cara missnya menyanyi untuk memberi aba-aba, sekali lagi sebagai murid yang mengikuti apa yang disebutkan oleh missnya. Kami kadang lucu kalo mendengarnya.

Ingin rasanya hadir untuk menyaksikan Thuva bernyanyi di acara Pentas Seni, tapi jarak yang jauh antara Medan dan Tanjung Balai dan jam dinas kantor membuat saya hanya bisa berkhayal.

Maafkan Papa tidak bisa hadir pada acara pentas senimu, papa mencintaimu, bernyanyilah besok papa juga akan bernyanyi bersamamu.....

05 Juni 2008

Seorang Wanita bersama Tiga Lelaki

Tuti Rosmeri Purba Tambak, lahir di Tebing Tinggi 30 taon yang lalu tepatnya 01 Juli 1978. Sekitar 5 taon yang lalu kami diberkati di sebuah gereja GKPS Sei Mayang, tempat dimana kami berjanji dihadapan Tuhan untuk selalu bersama dan saling menyayangi sampai maut memisahkan kami.
Rasanya baru kemarin, suasana gereja dan jemaat serta undangan masih teringat jelas saat mereka mengucapkan selamat atas pernikahan kami. Lima taon memang waktu seingkat untuk orang yang saling mencintai.

Dua anak sudah hadir ditengah-tengah keluarga kami, anak pertama kami Thuva Timothy Zorey (4) sekarang ikut Playgroup di Star Kid Suara Nafiri Jl. Mansyur, Padang Bulan Medan. Thuva begitu biasa kami memanggilnya, lahir di RSU Herna Medan hari Kamis, tanggal 06 Mei 2004 dengan berat 4,2 kg dan tinggi 51 cm pada sore hari sekitar jam 17.00 WIB. Aku dan mamanya ingin agar kelahiran anak pertama kami normal serta menurut pendapat dokter kami, dr. Juniansen Purba (pernah satu jemaat di GKPS Tg. Rejo), hal ini memungkinkan dan dapat diusahakan. Dokter berusaha agar kelahiran anak kami normal, dengan berbagai cara dilakukan melalui penyuntikan dan infus yang aku sendiri tak mengerti apa namanya, tetapi anak kami tidak kunjung nongol, bukaannya tidak berkembang begitu alasan dokter. Padahal kami udah datang ke Rumah Sakit tersebut hari Senin malam dan berbagai udah diusahakan agar kelahiran anak kami normal tapi tetap aja si thuva nggak kunjung lahir samapai pada hari Kamis. Mamanya udah lemas karena menahan rasa sakit akibat obat perangsang kelahiran, walaupun belum ada kata menyerah, dokter yang selama ini tempat kami konsultasi dan yang sekarang menanggani untuk kelahiran anak kami memutuskan untuk dioperasi Caesar. Dia menjelaskan lingkar pinggul istri saya terlalu kecil sehingga sulit untuk melahirkan secara normal. Dalam hati, kok dokternya nggak bilang dari awal, padahal selama ini kami periksa (check-up) ke tempat praktek hampir di setiap bulan. Proses operasi sangat cepat anak pertama kami lahir, yah si thuva memang gede, begitu thuva lahir mamanya kelihatan kecil, bodynya persis seperti dia masih gadis.

Tiga tahun berlalu anak kami yang kedua lahir lagi, namanya Tristan Thaddeus Shilo di Rumah Sakit yang sama dengan cara yang sama, tetapi dengan dokter yang berbeda. Tristan lahir tanggal 12 Oktober 2007, saat itu adalah hari libur Idul Fitri, kelahiran dipercepat karena kata dokter yang menangganinya sudah matang. Berhubung karena libur bersama Idul Fitri maka kami memutuskan tanggal 12 Oktober untuk dilakukan operasi, hal ini berhubung Bapaknya tugas di luar kota.

Semua awalan nama kami dimulai dari huruf "T", maka banyak teman menyebut kami dengan sebutan 4T's Family, hanya Tuti yang wanita maka blog ini aku sebut "Seorang Wanita bersama Tiga Lelaki".